bantenologi.org

Selamat Datang di Bantenologi

Laboratorium Bantenologi

E-mail Print PDF

Banten bears a resemblance to a big laboratory of a mixture of social-humanity sciences. This is due to the fact that the area possesses unique characters, characterised by conditions as follows:

  1. Historical remains and artefacts of a number of socio-cultural periods (megalithic, Hindu, Islam, colonial and post-colonial) can be found in Banten.Information with reference to this area is fairly well recorded in colonial archives and local manuscripts.
  2. Banten has a high number of  adat-bounded (a set of cultural norms, values, customs and practices found among a number of ethnic groups in Indonesian Archipelago) people compared to the surrounding areas.
  3. The area is also known for its wide variety of cultures, ethnicities and religions, covering cultures and ethnicities of, among other things, Javanese-Bantenese; Sundanese-Bantenese; Baduy; Betawi; Bugis; and Chinese, while in terms of religious orientations, besides adhering to Islam, some are influenced more by local mystical belief systems, and some adhere to ethnic religion, such as Sunda Wiwitan.
  4. In terms of geographical characters, the southern part of Banten is mainly upland and sparsely populated, while the northern part is more apt to be lowland and is highly populated. Banten also has two national parks that  fall under the category of world heritage: Taman Nasional Ujung Kulon and Taman Nasional Gunung Halimun Salak, and two nature reserves: Rawa Dano and Pulau Burung.
Read more...
 

Board of Kawalu

E-mail Print PDF

Editorial Advisory Committee

Robert Wessing (The Netherlands)
Bambang Pranowo (UIN Syarif Hidayatullah)
Huub de Jonge (Radboud University Nijmegen)
C. van Dijk (Leiden University)
Lee Wilson (The University of Queensland)
M.A. Tihami (IAIN “Sultan Maulana Hasnuddin” Banten)
Julian Millie (Monash University)
Léon Buskens (Leiden University)
Peter Just (Williams College)
Phillip Winn (Australian National University)
Mikihiro Moriyama (Nanzan University)

Read more...
 

KAWALU: JOURNAL OF LOCAL CULTURE GUIDELINES

E-mail Print PDF

1. Texts

  • The entire manuscript should be typed one and a half-spaced on one side of A4-sized paper, leaving a margin of at least 2.5 cm. on all sides.
  • Use Goudy Old Style font, 12-sized.
  • References should be typed one and a half-spaced on a separate sheet.
  • Use endnotes, not footnotes.
  • Pages should be numbered consecutively throughout.
  • British spelling is preferred in Kawalu: Journal of Local Culture. However, American spelling can also be used as long as the author pays attention to the consistency in writing. When writing in Indonesian, the author should refer to Kamus Besar Bahasa Indonesia. 
Read more...
 

Kamus Bahasa Jawa Banten

E-mail Print PDF

Oleh: A Mudjahid Chudari

PENDAHULUAN

Seperti juga bahasa-bahasa lain, bahasa Jawa Banten mempunyai aturan-aturan atau kaidah-kaidh bahasa yang khas. Bahasa ini merupakan warisan budaya yang perlu dipelihara dan dikembangkan oleh semua pihak. Hanya dengan usaha bersama saja, bahasa Jawa Banten ini dapat berkembang sesuai dengan porsinya sebagai salah satu bahasa yang ada di Banten. Penerbitan kamus kecil ini adalah bagian dari usaha tersebut. Mudah-mudahan harapan kita menjadikan Bahasa Jawa Banten ini sebagai budaya kebanggaan kita, anak cucu kita, dan masyarakat Banten pada umumnya, dapat dikabulkan Allah SWT.

MENGENAL KAIDAH BAHASA JAWA BANTEN

Dari segi pembentukannya, kata dapat digolongkan dalam: 1) kata dasar, dan 2) kata berimbuhan. Kata Dasar adalah satuan terkecil yang menjadi asal dari suatu kata kompleks; misal: wong, sekole, buku, dagang, mangan, geni, kelape, sopir, dsb. Sedangkan Kata Berimbuhan adalah kata yang dibentuk dari kata dasar dan kata imbuhan; mis.: sekolane, gegancangan, keberosotan, apane, breotan, kedaharan, pepelayon, kekelonan, cengengesan, kenuningan, dsb.

Last Updated ( Tuesday, 12 March 2013 02:43 ) Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 9

Jati Diri

“Engkau tahu bahwa ayah sangat berkenan akan pendidikan dan tata cara Barat, itu sebabnya kau disekolahkan di sekolah Belanda, tapi Ayah sama sekali tidak setuju bahwa seorang pribumi hendak meniru cara Barat seluruhnya. Yang akan kita pakai hanyalah yang sesuai dengan keadaan kita saja dan yang berfaedah untuk kehidupan kita masa kini. Selain itu hendaklah kita memegang adat pusaka kita sendiri, karena adat pusaka itu...tidak sekalipun dapat dikatakan lebih rendah derajat atau kurang daripada adat pusaka bangsa lain...” (Surat yang dikirim oleh Bupati Serang Pangeran Bagoes Djajawinata kepada anaknya, Aria Ahmad, pelajar HBS (SMA) di Batavia Jakarta, 1897)

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday40
mod_vvisit_counterYesterday166
mod_vvisit_counterThis week1049
mod_vvisit_counterLast week1268
mod_vvisit_counterThis month4090
mod_vvisit_counterLast month5497
mod_vvisit_counterAll days99119