bantenologi.org

Profil Laboratorium Bantenologi PDF Print E-mail
Written by Ibnu Adam Aviciena   
Thursday, 27 August 2009 07:12
Article Index
Profil Laboratorium Bantenologi
Kegiatan, NPWP, dan Nomor Rekening
Struktur Organisasi
All Pages

Bantenologi lahir pada tahun 2000 dengan Surat Keputusan Ketua STAIN “Sultan Maulana Hasanuddin Banten” Serang No: ST.29/hk.00.5/206/2000 tanggal 29 Februari 2000. Kemudian pada tanggal 3 Maret 2000, Bantenologi diresmikan oleh Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Republik Indonesia, Dr. Sarwono Kusumaatmadja.

Pada tahun 2007, Bantenologi direvitalisasi melalui Surat Keputusan Rektor IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten Nomor: In.10/HK.005/38a/2007 tanggal 8 Januari 2007. Berdasarkan Surat Keputusan ini, Bantenologi berubah menjadi Laboratorium Bantenologi.

VISI
Berpartisipasi mengantarkan Banten menuju masyarakat yang madani, mandiri, dan bermartabat

MISI
Menjadi center of exellence untuk data dan informasi, studi, konservasi, dan pengembangan kebudayaan Banten yang berorientasi pada keilmuan, keislaman, dan kebudayaan.

TUJUAN
Tujuan didirikannya Lembaga Bantenologi adalah:

  1. Mengkoleksi data dan informasi kebudayaan Banten yang meliputi data dan informasi tertulis, yakni buku, jurnal nasional dan internasional, dan media massa; data dan informasi visual, yakni foto-foto dan gambar; audio, yakni rekaman suara dalam berbagai format; data dan informasi audio-visual, yakni video dokumentasi dan film dokumenter.
  2. Melakukaan studi/ penelitian tentang Banten dan melakukan usaha-usaha/ kerja budaya untuk pengembangan masyarakat dan kebudayaan Banten
  3. Menkonservasi benda-benda budaya



Last Updated on Wednesday, 28 October 2009 15:52
 

Jati Diri

“Engkau tahu bahwa ayah sangat berkenan akan pendidikan dan tata cara Barat, itu sebabnya kau disekolahkan di sekolah Belanda, tapi Ayah sama sekali tidak setuju bahwa seorang pribumi hendak meniru cara Barat seluruhnya. Yang akan kita pakai hanyalah yang sesuai dengan keadaan kita saja dan yang berfaedah untuk kehidupan kita masa kini. Selain itu hendaklah kita memegang adat pusaka kita sendiri, karena adat pusaka itu...tidak sekalipun dapat dikatakan lebih rendah derajat atau kurang daripada adat pusaka bangsa lain...” (Surat yang dikirim oleh Bupati Serang Pangeran Bagoes Djajawinata kepada anaknya, Aria Ahmad, pelajar HBS (SMA) di Batavia Jakarta, 1897)

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday60
mod_vvisit_counterYesterday169
mod_vvisit_counterThis week60
mod_vvisit_counterLast week1178
mod_vvisit_counterThis month4279
mod_vvisit_counterLast month5497
mod_vvisit_counterAll days99308