bantenologi.org

Selamat Datang di Bantenologi

Urgensi Pembangunan Berwawasan Lingkungan Sebagai Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Pembangunan Kota Cilegon)

E-mail Print PDF

OLEH : H.M.A. Tihami

Cilegon menjadi Kota Cilegon, adalah bentuk klimak saat ini bagi wilayah yang telah melalui beberapa bentuk:

Dari sebuah kampung kecil yang dikelilingi rawa-rawa (kubang-kubang) terletak pada lengkungan (melegon), sejak sebelum pengembangan Banten oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651), kemudian menjadi sebuah pemukiman yang berkembang karena pengembangan rawa-rawa (kubang-kubang) menjadi area persawahan. Pada waktu itu pula, ketika perpanjangan tangan Sultan dalam pengembangan agama Islam oleh para Fakih (ulama), Cilegon merupakan tempat laluan menuju Caringin yang disebut-sebut sebagai pusat pesantren pertama di Nusantara.

 

Last Updated ( Wednesday, 16 June 2010 04:47 ) Read more...
 

Pengelolaan Laut Banten dalam (Persiapan) Otonomi Daerah

E-mail Print PDF

Oleh: Prof. Dr. H.M.A. Tihami, M.A.


I

Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 ayat (3) berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk se-besar-besar kemakmuran rakyat”. Dalam penjelelasannya secara singkat dinyatakan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat yang harus dikuasai oleh negara karena negara bertanggungjawab atas kemakmuran rakyat.

Last Updated ( Tuesday, 01 February 2011 07:57 ) Read more...
 

ISLAM BANTEN: Telaah Historis dan Sosio-Kultural

E-mail Print PDF

Oleh: H.M.A. Tihami


Pendahuluan

Melaporkan hasil penelitiannya, Cliford Geertz menulis buku yang diberi judul Islam Observed  yang dibahasaindonesiakan dengan Islam yang Saya Amati. Dalam buku itu digambarkan corak Islam yang berbeda penampilannya di dua tempat: Indonesia dan Maroko. Ia menggambarkan perbedaan itu berkaitan dengan kultur masyarakat yang didatangi Islam dan watak atau strategi pembawanya (orang yang menyebarkannya). Islam di Maroko bercorak blak-blakan dan fatalis karena budaya padang pasir yang keras dan pembawa Islam yang  nomodern (tidak mempunyai tempat tinggal tetap). Sementara Islam di Indonesia bercorak tertutup dan mistis karena budaya agraris yang animistis dan pembawa Islam yang juga mistis.

Read more...
 
More Articles...
Page 3 of 9

Jati Diri

“Engkau tahu bahwa ayah sangat berkenan akan pendidikan dan tata cara Barat, itu sebabnya kau disekolahkan di sekolah Belanda, tapi Ayah sama sekali tidak setuju bahwa seorang pribumi hendak meniru cara Barat seluruhnya. Yang akan kita pakai hanyalah yang sesuai dengan keadaan kita saja dan yang berfaedah untuk kehidupan kita masa kini. Selain itu hendaklah kita memegang adat pusaka kita sendiri, karena adat pusaka itu...tidak sekalipun dapat dikatakan lebih rendah derajat atau kurang daripada adat pusaka bangsa lain...” (Surat yang dikirim oleh Bupati Serang Pangeran Bagoes Djajawinata kepada anaknya, Aria Ahmad, pelajar HBS (SMA) di Batavia Jakarta, 1897)

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday71
mod_vvisit_counterYesterday166
mod_vvisit_counterThis week1080
mod_vvisit_counterLast week1268
mod_vvisit_counterThis month4121
mod_vvisit_counterLast month5497
mod_vvisit_counterAll days99150