Pendahuluan

Kebesaran Banten sebagai daerah yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan internasional dan kesultanan Islam paling kuat pada masanya tercatat dalam berbagai literatur sejarah. Masyarakatnya yang disebut-sebut dalam catatan Snouck Hurgronje sebagai masyarakat Muslim yang lebih sadar diri dan lebih taat dalam menjalankan ajaran agama dibandingkan dengan daerah lainnya di pulau Jawa, menjadikan citra Banten sebagai daerah yang relijius cukup lekat. Bahkan, masih dalam catatan Snouck Hurgronje, pada akhir abad ke-19, orang-orang Banten merupakan orang-orang yang sangat menonjol di antara orang-orang Asia Tenggara yang menetap di Mekkah, baik sebagai guru maupun murid di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang ada di sana.

Citra  positif yang melekat pada masyarakat Banten ini tentu tidak lepas dari peran para penguasa (Sultan) Banten saat itu yang tidak hanya menaruh perhatian dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi juga memberikan perhatian lebih dalam bidang keagamaan. Dalam catatan Martin van Bruinessen, dikatakan bahwa untuk memperkuat dan mengembangkan bidang keagamaan, Sultan Banten mengundang para ulama Nusantara dan ulama dari Timur Tengah, khususnya Mekkah, untuk datang dan menetap selama jangka waktu tertentu di Banten dan mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat. Hubungan baik yang terjalin antara Kesultanan Banten dengan Mekkah sebagai pusat dan kiblat keislaman dunia turut membangun peradaban Islam yang cukup kuat di Banten, bahkan untuk memperoleh legitimasi keagamaan, beberapa Sultan Banten meminta gelar 'Sultan' kepada Syarif di Mekkah. Gelar inilah yang menjadikan para Sultan Banten dipandang bukan hanya sebagai penguasa negeri, tapi juga secara sah dianggap sebagai pemimpin agama (ulama/wali). Oleh karena kecintaan dan perhatian yang besar dari para sultan kepada ilmu agama, dan penghargaan  serta penghormatan yang tinggi terhadap para ulama, dalam beberapa catatan yang ditulis oleh orang Eropa yang pernah berkunjung ke kesultanan Banten pada abad ke-16 dan 17, tercatat bahwa  kesultanan Banten pada saat itu menjadi pusat kegiatan keilmuan Islam di Nusantara.

Meskipun Islam menjadi simbol peradaban baru bagi masyarakat Banten saat itu, namun  para Sultan Banten tidak serta merta menghapus jejak tradisi dan budaya lokal Banten yang sudah ada jauh sebelum Islam masuk dan berkembang. Indikasi bahwa penguasa Banten saat itu masih menghargai dan menghormati tradisi dan budaya lokal adalah cerita dalam ‘Sadjarah Banten’ yang menyatakan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa,  sejak belia dan masih menjabat sebagai Sultan Muda, dikenal sebagai putra bangsawan yang sangat menyukai kebudayaan; bahkan ia seringkali terlibat aktif dalam beberapa tradisi permainan rakyat Banten seperti permainan raket (semacam wayang wong), dedewaan, sasaptoan, dan berbagai tradisi lokal lainnya (Tjandrasasmita, 2001:29). Hal ini mengindikasikan bahwa Sultan Banten, yang dianggap sebagai pemimpin agama, ulama, bahkan wali, tidak pernah berusaha menghapus jejak tradisi dan budaya lokal yang dianggap tidak merusak aqidah umat Islam. Artinya bahwa bagi masyarakat Banten, ketaatan dalam beragama (Islam) tidak mesti menghapus identitas kultural masyarakat Banten. 

Sikap akomodatif dan toleratif para penguasa Banten pada masa itu terhadap keberadaan tradisi dan budaya lokal masyarakat Banten sepertinya menjadi salah satu alasan mengapa Islam bisa diterima secara luas oleh masyarakat Banten dan berkembang cukup pesat pada masa itu. Apresiasi penguasa Banten terhadap keragaman kebudayaanlah yang juga menjadi starting point bagi masyarakat dunia untuk berbondong-bondong meramaikan perniagaan di Banten dan berbaur dengan masyarakat lokal. Sikap toleran penguasa serta masyarakat Banten terhadap keragaman budaya dunia terindikasi lewat bangunan-bangunan yang masih terlihat bukti fisiknya hingga kini di area sekitar Surosowan (Banten Lama), juga beberapa daerah yang dijadikan pemukiman warga asing, serta beragam budaya dan tradisi asing yang saat ini masih bisa kita saksikan dalam setiap upacara keagamaan dan tradisi kepercayaan mereka. Tradisi dan budaya asing yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya hingga saat ini tentu turut memperkaya khazanah tradisi dan kebudayaan masyarakat Banten.

Dihancurkannya Surosowan dan seluruh bangunan kesultanan di Banten Lama oleh Daendels (1808) dan pembuangan sultan Banten terakhir beserta seluruh keluarga dan keturunannya ke luar Banten, hampir menghapus seluruh jejak kejayaan Banten di masa lalu. Puing-puing bangunan kesultanan Banten serta berbagai catatan sejarah dan babad, baik yang ditulis oleh masyarakat lokal maupun oleh warga asing (terutama Eropa) yang pernah singgah di Banten menjadi bukti abadi betapa Banten pernah menjadi kesultanan yang besar dan kuat, memiliki peradaban yang besar dan menjadi kebanggaan masyarakat Banten dan masyarakat dunia.

Suksesnya masyarakat Banten memperoleh pengakuan sebagai sebuah provinsi pada tahun 2000 tidak dibarengi dengan kesadaran untuk memiliki dan menghidupkan kembali jati diri dan identitas kultural masyarakat Banten. Minimnya wawasan dan pengetahuan generasi muda Banten saat ini terhadap sejarah dan kebudayaan Banten dikhawatirkan akan menghapus jejak identitas budaya Banten dan akan semakin menjauhkan masyarakat Banten dari nilai-nilai kultural karena tercerabut dari akar budaya serta local wisdom yang menjadi world view masyarakat Banten di masa lalu. Padahal memiliki dan menjaga identitas budaya merupakan satu hal yang sangat penting sebagai bagian dari upaya pengukuhan eksistensi budaya masyarakat Banten.

Oleh karena pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya serta pentingnya memiliki identitas kultural, maka urgensi pembentukan sebuah lembaga yang menaruh perhatian pada segala aspek yang berkaitan dengan Banten muncul di segenap lapisan masyarakat. Salah satunya adalah mengemukanya ide tentang pentingnya pembentukan lembaga semacam ini yang muncul di STAIN "Sultan Maulana Hasanuddin Banten" melalui usulan dari Prof. M.A. Tihami pada tahun 1990-an, yang saat itu menjabat sebagai Ketua lembaga pendidikan tinggi tersebut. Pada saat itulah muncul pula ide terbentuknya Bantenologi sebagai lembaga kajian tentang Banten. Kemudian, secara resmi Bantenologi berdiri pada tahun 2000 dengan Surat Keputusan Ketua STAIN “Sultan Maulana Hasanuddin Banten” Serang No: ST.29/hk.00.5/206/2000 tanggal 29 Februari 2000. Kemudian pada tanggal 3 Maret 2000, Bantenologi diresmikan oleh Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Republik Indonesia, Dr. Sarwono Kusumaatmadja. Pada tahun 2007, Bantenologi direvitalisasi melalui Surat Keputusan Rektor IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten Nomor: In.10/HK.005/38a/2007 tanggal 8 Januari 2007. Berdasarkan Surat Keputusan ini, Bantenologi berubah menjadi Laboratorium Bantenologi.