Perawatan Situs Sejarah di Gunung Santri

Bojonegara merupakan salah satu kampung bersejarah di Banten. Lokasi paling bersejarah di desa ini terletak di daerah Gunung Santri yang merupakan saksi  perjuangan masyarakat Banten dalam melawan penjajah Belanda. “Dahulu Gunung Santri merupakan tempat persembunyian Ki Wasyid dan para pengikutnya untuk mengatur strategi menghadapi perlawanan para penjajah Belanda”, tutur Zainal (Penjaga Situs Gunung Santri). Tuturan ini paling tidak mencerminkan fungsi Gunung Santri pada saat periode kolonial.

Di kawasan Gunung Santri kita dapat menemukan makam para tokoh pahlawan pada zaman Kesultanan termasuk tokoh-tokoh yang meninggal pada peristiwa geger Cilegon tahun 1888. Hal ini dapat terlihat pada saat kami melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Santri di mana terdapat begitu banyak kuburan dengan batu – batu nisan kuno di sepanjang jalan menuju puncak gunung itu.

Sebelum melakukan kegiatan penelitian, relawan Bantenologi dan peserta PPSTM diberikan arahan oleh abah Yadi Ahyadi (ahli manuskrip Banten). Dia mengatakan bahwa selama perjalanan menuju Gunung Santri, relawan dan peserta tidak boleh bercanda, mengucapkan kata yang tidak baik, dan bersikap di luar norma agama karena hal-hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan sesuatu yang dapat membahayakan relawan dan para peserta ketika mereka mendaki Gunung Santri yang dikenal sebagai tempat yang masih sakral dan keramat.

Relawan dan peserta PPSTM kemudian melakukan ziarah kubur ke makam Ki Sholeh yang menurut penuturan penduduk lokal, beliau merupakan guru dari Sunan Ampel dan Sulthan Maulana Hasanuddin. Selain itu, ia juga memiliki peranan yang cukup besar dalam proses islamisasi di Banten.

Setelah melakukan ziarah, Abah Yadi, pak Zainal, relawan dan peserta melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Santri. Beberapa saat kemudian, kami menemukan nisan berukiran yang posisinya sudah roboh dan berlumut. Kondisi ini cukup memprihatinkan. Menurut pa Zainal, “Dahulu terdapat banyak batu nisan yang berbentuk ukiran seperti yang berada di pemakaman yang ada di Banten Lama dan Jawa, namun karena banyak masyarakat yang tidak tahu akan situs tersebut, akhirnya banyak diambil oleh masyarakat dan para peziarah”.

Atas izin dari pak Zainal, akhirnya relawan dan peserta melakukan penggalian batu nisan untuk dibersihkan dari lumut dengan menggunakan sikat gigi dan air. Kemudian, batu nisan itu diposisikan sesuai dengan tempat semula.
Perawatan situs nisan di Gunung Santri merupakan kegiatan bermanfaat dan menjadi pengalaman pertama yang dilakukan oleh relawan dan peserta kegiatan Pelatihan Penelitian Sejarah Tingkat Menengah (PPSTM) sebagai wujud kepedulian mereka terhadap situs sejarah. (Aris Muzhiat)