Ubrug dan Nandung Sebagai Hiburan Rakyat Banten

Pertunjukan itu dimulai dengan alunan musik nayaga sambil menunggu para sinden siap pentas. Ubrug kali ini diiringi lagu jaipong dan orkes dangdut. Para sinden kemudian naik ke atas panggung secara bersamaan kemudian menari bersama sebagai tarian pembuka. Setelah menari mereka mendendangkan syair – syair yang diiringi oleh nayaga.

Kesenian yang pertama dimainkan adalah dangdut dengan biduan cilik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas lima bernama Wulan. Dia menyanyikan lagu pengantin baru diringi keyboard untuk menghibur masyarakat yang menyaksiakannya. Beberapa ibu – ibu naik ke panggung untuk bergoyang bersama biduan cilik ini sambil memberikan uang saweran kepada Wulan. 

Kesenian kedua yang ditampilkan adalah kesenian jaipong. Kesenian ini menampilkan sinden sebagai pelantun syair – syair lagu. Para ronggeng sebagai penari dan nayaga sebagai pengiringnya. Para ronggeng menari satu per satu secara bergantian untuk memancing penonton untuk naik ke atas panggung agar menari bersama. Tidak sedikit bapak – bapak naik ke atas panggung menari bersama ronggeng sambil memberikan saweran kepada ronggeng tersebut. 

Acara selanjutnya adalah ubrug dan nandung. Teh Uti sebagai nandung mulai mengindungkan nandung dengan tarian, kemudian dilanjutkan oleh bodoran Mang Termos sebagai pemeran utama. Bobodoran ini menarik perhatian penonton. Banyak di antara mereka tertawa terbahak–bahak. Keseruan berlanjut ketika Mang Sarmani datang. Ibu–ibu yang menyaksikan terus menerus tertawa karena kelucuan Mang Termos dan Mang Sarmani. Walaupun hari sudah larut malam namun antusiasme masyarakat tidak kendor. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang menonton hingga selesai. Ini mumbuktikan bahwa ubrug adalah kesenian masyarakat.

“Kesenian ubrug ini sudah eksis sejak tahun 60–70an. Namun, Pandawa Lima baru terkenal sejak satu tahun yang lalu. Pandawa Lima terdiri dari beberapa ubrug yang ada di Banten yang mati suri dalam kancah pementasan seni,” tutur abah Yadi. (Aris/Erni)