Kuliah Sampai 13 Semester, Kamaludin Puas

Mahasiswa bulukan, veteran dan abadi adalah gelar yang disandang oleh Kamaludin dari beberapa dosen. Gelar itu didapat karena sampai semester 13 mahasiswa yang masuk ke IAIN Banten sejak 2009 ini belum dapat menyelesaikan kuliahnya. 

Kenapa demikian? Mahasiswa yang memilih Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab, ini menuturkan bahwa keterlambatan itu dikarenakan kesibukannya mencari pengalaman di dalam dan luar kampus. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah bahwa dia ingin membuat karya yang memenuhi syarat dan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

Pada 2013  ia baru mulai menulis skripsinya dengan judul “Tragedi Berdarah di Banten 1926 : Studi Kasus Perjuangan K.H. Mohammad Gozali di Petir”.  Awalnya judul tersebut menuai pro dan kontra dari para pembimbingnya. Di antara mereka mengkhawatirkan karena tokoh yang ditulis berasal dari golongan PKI, bahaya yang mungkin menimpa diri bila mengungkap tokoh tersebut, dll. Karena kesungguhannya, ia dapat mencari celah bahwa tokoh tersebut dapat dikaji dari sudut ahli tarekat. Akhirnya ia dapat meyakinkan bahwa judul tersebut merupakan kajian yang tepat. Belum adanya peneliti yang mengkaji secara mendalam juga merupakan hal yang melatarbelakanginya untuk tetap mengkaji topik tersebut. 

Dalam skipsinya ia menuturkan bahwa K. H. Mohammad Gozali kelahiran Kampung Reuma, Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Provinsi Banten atau lebih dikenal dengan sebutan Abuya Gozali (w.1963) merupakan pendiri Pondok Pesantren Nurul Falah Cigodeg dan salah satu aktivis pemberontakkan yang gigih dalam memberantas ketidakadilan Pemerintah Kolonial Belanda. Di antara usaha pemberontakan yang dilakukan adalah dengan selalu menyelipkan propaganda anti pemerintah kafir dalam setiap melakukan khutbah-khutbah agama, mengajarkan dan mengupas kitab-kitab yang membahas tentang peperangan (babul harab) kepada murid yang sudah bergelar kiyai, sampai melakukan perang gerilya melawan Kolonial Belanda di Petir bersama masyarakat sekitar. Menanggapi ini pemerintah kolonial Belanda membentuk satuan khusus untuk memburu dan menangkap Abuya Gozali karena dia dianggap sebagai seorang ulama yang berbahaya.

Akhirnya atas karya tersebut, Kamaludin mendapat apresiasi dari dosen-dosen penguji dan rekan-rekannya. Tidak hanya itu, ia juga mendapat apresiasi dan cucuran air mata haru, bangga dan bahagia dari orangtua serta keluarga besar keturunan K. H. Mohammad Gozali atas perjuangannya dalam menuliskan tokoh sekaligus orang tua mereka dengan penuh ketekunan, kesungguhan serta dapat di pertanggung-jawabkan. Ia pun merasa puas atas karyanya tersebut. 

“Meskipun lama tapi saya tidak sia-sia karena dapat menghadirkan sebuah karya berharga meskipun jauh dari sempurna. Paling tidak saya ingin memberitahu kepada banyak orang bahwa di Petir ada tokoh dan pejuang besar yang layak untuk diteladani, yang mana orang Petir sendiri sedikit yang mengetahuinya. Mudah-mudahan bermanfaat,” jelasnya. (ANDRI)