Hari Bumi dan Kearifan dari Pancer Bhumi

Tujuan awal peringatan ini memang memiliki alasan yang sangat kuat. Industrialisasi yang diiringi dengan ledakan jumlah penduduk dunia telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup di seluruh dunia hingga hari ini. Sebagai contoh kasus di Indonesia misalnya, menurut Data Global Forest watch dan Forest Watch Indonesia, sepanjang tahun 2009 sampai 2013 saja, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar. Masih menurut data Forest Watch Indonesia, pada tahun 1950 diperkirakan Indonesia masih memiliki 193 juta hektar wilayah hutan. Tahun 2009, luas hutan Indonesia berkurang menjadi sekitar 88 juta hektar; dan pada tahun 2013, luasnya hanya tinggal sekitar 82 juta hektar saja (www.nationalgeographic.co.id).

Fakta kerusakan alam tentu bukan saja menjadi masalah sekelompok etnis, bangsa, negara atau agama tertentu, tetapi sudah menjadi masalah seluruh umat manusia. Hal itu terjadi karena dampak kerusakan lingkungan tidak saja dirasakan langsung oleh manusia di sekitar tempat di mana perusakan lingkungan terjadi, tetapi juga dirasakan oleh manusia di belahan dunia lainnya. Penebangan liar yang dilakukan di daerah hulu akan berdampak di hilir, yakni banjir bandang atau pendangkalan sungai karena hanyutan lumpur yang mengendap di dasar sungai. Penambangan emas liar yang membuang merkuri ke sungai akan berdampak pada kualitas air hingga ke hilir. Atau pada skala yang lebih luas, konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan telah berhasil menaikkan suhu bumi hingga beberapa derajat, akibatnya perubahan iklim saat ini sudah benar-benar terjadi dan dirasakan oleh semua orang di seluruh dunia.
Cara pandang manusia terhadap alam secara garis besar terbagi menjadi tiga, yaitu antroposentrisme yang menitikberatkan pada manusia; biosentrisme yang menitikberatkan pada makhluk hidup; dan ekosentrisme yang menitikberatkan tidak saja pada makhluk hidup tetapi juga benda-benda mati sebagai satu kesatuan tak terpisahkan. Salah satu bentuk gerakan ekosentrisme yang paling populer adalah deep ecology yang dicetuskan pertama kali oleh filsuf Norwegia, Arne Naess. Deep Ecology adalah bentuk kritik Naess terhadap gerakan lingkungan yang bersifat dangkal (shallow), dengan menegaskan  bahwa deep ecology  menuntut suatu etika yang tidak berpusat pada manusia (antroposentrisme) dan bahwa deep ecology tidak hanya sekedar etika saja, melainkan suatu gerakan atau aksi nyata. Oleh karena itu, Naess menyebut deep ecology  sebagai ecosophy, yang berarti kearifan mengatur hidup selaras dengan alam sebagai rumah tangga dalam arti yang luas, dan berarti pula pergeseran pemekaran lingkungan dari sains menjadi sebuah kearifan (wisdom).

Saya teringat ketika pertama kali menghadiri prosesi seba orang Baduy pada tahun 2007. Prosesi yang melibatkan 35 orang Baduy Dalam dan 1000 orang Baduy Luar itu begitu istimewa bagi saya karena dua hal. Pertama, prosesi seba ke hadapan Gubernur Banten itu dilaksanakan pada tanggal 22 April, bertepatan dengan Hari Bumi Sedunia. Kedua, istimewanya lagi, dalam seba itu, mereka menyampaikan perlunya menjaga kelestarian alam. Secara spesifik mereka menyebutkan gunung-gunung yang perlu dijaga hutannya, yaitu Gunung Pulosari, Gunung Aseupan, Gunung Karang, Gunung Kendeng, dan wilayah Ujung Kulon. Mereka juga menghimbau agar pemerintah serius menangani penebangan liar yang marak terjadi.

Masyarakat Baduy adalah salah satu dari sekian puluh masyarakat adat di Indonesia. Mereka menempati tanah ulayat seluas kurang lebih 5100-an hektar di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Masyarakat Baduy menjalani kehidupannya berdasarkan  rukun Sunda Wiwitan, yaitu ngareksakeun sasaka pusaka buana, ngareksakeun sasaka parahyang, ngasuh ratu ngajayak menak, ngabaratapakeun nusa telu puluh telu, kalanjakan kapundayan, dan ngukus ngawalu muja ngalaksa. Rukun pertama berhubungan dengan tugas utama mereka dari Tuhan, yakni menjaga dan merawat sasaka pusaka buana sebagai inti jagat. Dengan kata lain, dalam pandangan mereka, wilayah Baduy adalah wilayah inti jagat, pusat dunia. Rusak inti jagat, rusak pula seluruh dunia. Karena peran sebagai pemegang amanat Tuhan inilah yang menjadikan mereka begitu berhati-hati dalam memperlakukan alam dan lingkungan mereka. Sebagai contoh, dalam penataan wilayah, mereka membagi tiga zona, yakni zona pemukiman dan leuweung lembur (hutan kampung) di lembah-lembah, biasanya dekat sungai, zona perladangan, dan zona leuweung kolot (hutan tua) di puncak-puncak bukit yang bersifat sakral. Selain itu, mereka juga memiliki hutan larangan di mana sasaka pusaka buana sebagai pusat dunia itu berada. Hutan ini adalah hutan yang paling sakral, sehingga tidak boleh didatangi oleh sembarang orang.

Karena dipandang sebagai pusat dunia, maka terdapat banyak tabu atau larangan yang tidak boleh dilakukan di wilayah tanah adat mereka. Hal itu berfungsi untuk menjaga wilayah adat mereka dari hal-hal yang akan merusak kesucian pusat dunia itu. Misalnya, larangan menggunakan alat-alat perladangan selain golok dan kored menunjukkan bahwa dalam berladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, orang Baduy dilarang berlebih-lebihan. Peralatan modern seperti gergaji mesin tidak saja mendorong hasrat berlebih-lebihan dalam menebang pohon, tetapi juga menuntun orang pada sikap sombong terhadap alam. Karena tabu ini pulalah hutan di wilayah tanah adat Baduy masih tetap terjaga kelestariannya. Contoh kedua adalah larangan menggunakan sabun mandi dan pasta gigi ketika mandi di sungai. Saat ini memang terbukti bahwa limbah rumah tangga adalah limbah kedua terbesar yang berkontribusi pada pencemaran air dana tanah setelah limbah industri.

Contoh kearifan-kearifan lain masih dapat kita temukan pada masyarakat adat lainnya di Indonesia. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa kearifan ekologis itu sebetulnya masih dengan mudah kita temukan di negeri ini. Kearifan ekologis yang dipegang oleh deep ecology misalnya, pada dasarnya sudah dipraktikkan berabad-abad oleh leluhur kita. Senada dengan itu, Wei-Ming (2003: 23-25) memberi catatan penting bahwa terdapat tiga sumber spiritual yang dapat membangun kearifan ekologis global yang dipandang mampu berkontribusi pada perbaikan kualitas alam dunia. Pertama, tradisi-tradisi etik-religius dunia Barat modern, khususnya zaman filsafat Yunani, Yudaisme dan Kristianitas. Kedua, peradaban zaman kapak non Barat yang mencakup Hinduisme, Jainisme, Taoisme, dan Islam. Ketiga, tradisi-tradisi asli yang banyak tersebar hampir di seluruh dunia.

Oleh karena itu, kita yang belajar kearifan pada orang Baduy, sesungguhnya telah berpartisipasi dalam membangun etika ekologis global sebagaimana yang dicetuskan Wei-Ming, sekaligus juga memupuk ecosophy sebagaimana yang dicetuskan oleh Naess. Apalagi jika kearifan masyarakat adat itu diperkuat dengan melibatkan masyarakat beragama lain secara keseluruhan. Doktrin religius tentang khalifah Allah di muka bumi yang dipegang oleh umat Islam, misalnya, dapat ikut memperteguh niat dan memperkuat gerakan ekologis yang mampu menyelesaikan persoalan lingkungan saat ini. Demikian pula dengan partisipasi umat beragama lainnya.

Helmy Faizi Bahrul Ulumi
Direktur Laboratorium Bantenologi
dan Ketua Bidang Litbang dan Advokasi Dewan Kesenian Banten

Diterbitkan Radar Banten