Urgensi Perda Pesantren di Banten

Pesantren  merupakan lembaga pendidikan tertua di tanah air yang memiliki peran yang sangat strategis dalam fase-fase sejarah bangsa Indonesia baik pada era sebelum kemerdekaan dan masa pergerakan nasional, hingga masa kemerdekaan dan revolusi. 

Pada masa masuknya agama Islam di Nusantara, pesantren berperan penting dalam menghasilkan kader-kader dakwah yang mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat yang saat itu mayoritas memeluk agama Hindu, Budha, serta Animisme dan Dinamisme.

Lembaga pendidikan ini pada saat itu menjadi pusat kajian keislaman dan media yang mempertemukan para kyai dan guru agama dengan murid-muridnya baik dari kalangan istana maupun dari kalangan rakyat itu sendiri. Di lembaga inilah para murid belajar ilmu agama Islam yang kemudian diejawantahkan dalam dakwah dan praktek hidup bermasyarakat.

Jika di Jawa Timur pesantren sunan Ampel dianggap sebagai pesantren tertua yang berfungsi sebagai pusat penyebaran agama Islam di bagian timur Jawa, maka di Banten lembaga pendidikan sejenis pesantren yang tertua pernah berdiri di Kasunyatan (saat ini menjadi salah satu kelurahan di Kasemen, Kota Serang) dan di pesantren Karang.

Ketika secara burturut-turut VOC dan Belanda menguasai Nusantara, pesantren bersama kyai dan santri-santrinya menjadi motor penggerak di tengah masyarakat dalam menjaga identitas keislaman dan pada saat yang sama dengan gagah berani menentang penjajahan dengan segala bentuk dan sisi negatifnya. Tidaklah mengherankan jika kemudian pada abad ke-19 misalnya muncul banyak pemberontakan di Nusantara yang dikoordinasi oleh kaum kyai beserta santri-santrinya di mana salah satunya yang fenomenal adalah pemberontakan petani Banten pada tahun 1888.

Pada era revolusi, tentu tidak terhitung pengorbanan para kyai, santri, dan pesantren dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Tipologi Pesantren

Pada fase awal pendirian, pesantren hanya mengambil satu bentuk saja yaitu ketika para kyai mengajarkan kitab-kitab utama dengan metode sorogan dan bandongan. Metode yang pertama merupakan metode di mana santri membaca kitab di hadapan kyai yang kemudian kyai atau badalnya mengecek pemahaman santri tersebut baik dalam aspek ilmu Nahwu, Shorof, termasuk maknanya. Sedangkan metode bandongan merupakan metode di mana kyai membacakan dan menjelaskan sebuah kitab yang didengarkan dengan seksama oleh para santri dengan mencatat arti kosa kata baru atau mencoret syakal pada lembaran-lembaran kitab kuning itu. 

Dalam tahapan perkembangannya, pesantren merespon perkembangan zaman yang bergerak cepat sehingga akhirnya memunculkan beberapa tipologi. Pertama, pondok pesantren salafiyah. Pondok pesantren tipe ini diyakini sebagai pondok pesantren yang tradisional dan merupakan system pendidikan yang murni dihasilkan oleh para ulama para penyebar Islam di bumi nusantara. 

Beberapa karakteristik pesantren salafiyah diantaranya adalah masih dipertahankannya metode sorogan dan bandongan, muatan pemahaman Nahwu Shorof yang kuat, dan pada level tertentu menolak perubahan. Di Banten, tipologi pesantren seperti ini dapat diwakili oleh pesantren Pelamunan, pesantren Cidahu, dan pesantren-pesantren Salafiyah lainnya.

Tipikal pesantren selanjutnya adalah pesantren salafiyah yang kemudian menggabungkannya dengan sistim madrasah. Tipikal pesaantren seperti ini dapat ditemukan pada pesantren al Jauharotunnaqiyah Cibeber, Cilegon.

Tipikal ke tiga adalah pesantren modern yang sejak berdiri berusaha memadukan antara ilmu keislaman dengan perkembangan ilmu keduniaan seperti Bahasa Internasional, Matematika, Fisika, Ilmu Sosial, dan ilmu-ilmu lain.

Belakangan muncul tipikal keempat yaitu pesantren yang mengkhususkan pada bidang tertentu seperti pesantren tahfidz Quran dan pesantren terapi jasmani dan spiritual. 

Memelihara Pesantren dan Tradisi Pesantren 

Data base Kantor Kementrian Agama Banten menunjukkan bahwa jumlah pesantren yang ada di Banten dalam beragam kategori berjumlah lebih dari empat ribu pesantren. Jumlah ini dari tahun ke tahun cenderung naik. Jumlah ini tentu juga berhubungan dengan jumlah santri atau murid yang menjadi peserta didik di pesantren itu.

Dengan jumlah pesantren dan santri yang demikian besar menunjukkan bahwa partisipasi dan kontribusi masyarakat Banten dalam menyelenggarakan pendidikan sekaligus keagamaan masih sangat tinggi.

Namun pada saat yang sama nampaknya belum ada perhatian yang serius, menyeluruh, dan esensial yang ditunjukkan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk membantu dunia pesantren dalam meningkatkan daya saing dan memelihara tradisinya.

Buktinya hingga saat ini masih banyak pesantren yang belum memiliki kelayakan baik dalam aspek sarana dan prasarana maupun infrastruktur pendidikan. Banyak pesantren salafiyah misalnya yang kondisi kobong-kobong tempat santri menginap sudah sangat tidak layak baik dari aspek kenyamanan dan kesehatan. Sementara di pondok pesantren modern juga masih terkendala karena misalnya belum sebandingnya rasio sarana prasarana dengan jumlah santri.   

Dalam aspek tenaga pendidik, masih banyak juga pesantren yang belum mampu meningkatkan kompetensi, profesionalitas, dan keahlian para ustadz dalam aspek kognitif, pedagogik, sosial, professional, dan kepribadian karena keterbatasan pendanaan, akses, dan jaringan.

Seharusnya pesantren tidak perlu meminta-minta kepada pemerintah ketika mereka memerlukan dana untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan kapasitas para ustadznya andai pemerintah memiliki kepedulian yang nyata kepada dunia pesantren. 

Memang salah satu ciri khas pesantren adalah kemandirian. Namun untuk menghadapi perubahan zaman yang semakin pesat, menjadi sebuah keharusan bagi pemerintah daerah untuk membantu pesantren dalam mempersiapkan generasi penerus yang religius, islami, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Terlebih Banten sudah terlanjur menyatakan logonya sebagai Provinsi yang berlandaskan iman dan taqwa.

Sebuah kesalahan fatal jika proses pembangunan infrastruktur di Banten yang luar biasa pesatnya tidak dibarengi dengan pembangunan sumber daya manusia yang memiliki basis keagamaan, moralitas, dan integritas yang dimiliki oleh pesantren.

Untuk itulah keberadaan Peraturan Daerah (Perda) terkait pesantren menjadi penting dalam rangka menjaga dan melindungi warisan khazanah intelektual nenek moyang dalam bidang pendidikan agama yang ada di Banten. Wallahua’lam.

 

*Staf Pengajar IAIN SMH Banten, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Serang